Kamis, 26 Januari 2017

Nasihat Bagi Jomblo

0 komentar

Wahai para muda dan mudi, yang sampai detik ini belum mendapatkan pasangan hidup. Tetaplah semangat untuk mendapatkan jodoh.

Pasangan yang shalih maupun shalihah adalah dambaan setiap insan beriman. Untuk mendapatkannya maka Anda perlu memperhatikan yang berikut ini.

1. Jadilah pribadi yang baik.

Tempalah diri Anda dengan terus memperbaiki diri, sehingga Anda menjadi pribadi yang baik. Karena hanya dengan cara inilah Anda akan dipertemukan dengan pasangan yang setara.

Pemuda yang baik-baik akan mendapatkan pasangan Pemudi yang baik-baik pula. Demikian halnya dengan Pemudi yang baik-baik akan mendapatkan Pemuda yang baik-baik pula.

Bagaimana dengan muda dan mudi yang tidak baik? Merekapun juga akan mendapatkan pasangan yang setimpal.

Ingat Allah tidak pernah ingkar janji. Janji Allah SWT pasti benar, sebagaimana firmanNya: "Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga)."
(QS. An-Nur: Ayat 26)

2. Luruskan niat.

Tanyalah pada diri Anda, untuk apa menikah? Karena Allah dan Rasulnya? Untuk memenuhi syahwat? Karena cinta? Atau yang lainnya?

Jawabannya tentu berbeda-beda. Ingatlah hidup manusia hanya untuk ibadah pada Allah. Oleh karena itu nikahlah karena Allah dan Rasulnya. Anda akan mendapatkan keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmat.

3. Bekalilah diri dengan ilmu.

Kehidupan berumah tangga tidak mengenal laboratorium tempat untuk uji coba. Oleh karenya butuh bekal ilmu yang cukup.

Dalam kehidupan berumah tangga ibaratnya orang berlayar, ditengah samudra kehidupan Anda akan mendapati terpaan angin, hujan, ombak, gelombang besar, panasnya matahari, dan dinginnya malam. Kesemuanya itu jika tanpa ada bekal ilmu yang cukup maka perahu Anda akan kandas. Hanya orang-orang yang cukup perbekalan ilmulah yang mampu menghadapi semua rintangan dengan baik dan sampai tujuan.

Semoga muda dan mudi yang dalam pencarian jodohnya segera dipertemukan dengan pasangan yang diidam-idamkan (baca: muda dan mudi shalih shalihah).

🖌Sabar Ahmad Sholikin

•═════◎◎۩❁۩◎◎═════•
Broadcasted by belajar sabar
- Telegram channel:https://t.me/belajarsabar
- Blogger:http://dakwahdanpendidikan.blogspot.com

Readmore...

Nasihat Bagi Jomblo

0 komentar

❤️🌸Nasihat Bagi Jomblo🌸❤️

Wahai para muda dan mudi, yang sampai detik ini belum mendapatkan pasangan hidup. Tetaplah semangat untuk mendapatkan jodoh.

Pasangan yang shalih maupun shalihah adalah dambaan setiap insan beriman. Untuk mendapatkannya maka Anda perlu memperhatikan yang berikut ini.

1. Jadilah pribadi yang baik.

Tempalah diri Anda dengan terus memperbaiki diri, sehingga Anda menjadi pribadi yang baik. Karena hanya dengan cara inilah Anda akan dipertemukan dengan pasangan yang setara.

Pemuda yang baik-baik akan mendapatkan pasangan Pemudi yang baik-baik pula. Demikian halnya dengan Pemudi yang baik-baik akan mendapatkan Pemuda yang baik-baik pula.

Bagaimana dengan muda dan mudi yang tidak baik? Merekapun juga akan mendapatkan pasangan yang setimpal.

Ingat Allah tidak pernah ingkar janji. Janji Allah SWT pasti benar, sebagaimana firmanNya: "Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga)."
(QS. An-Nur: Ayat 26)

2. Luruskan niat.

Tanyalah pada diri Anda, untuk apa menikah? Karena Allah dan Rasulnya? Untuk memenuhi syahwat? Karena cinta? Atau yang lainnya?

Jawabannya tentu berbeda-beda. Ingatlah hidup manusia hanya untuk ibadah pada Allah. Oleh karena itu nikahlah karena Allah dan Rasulnya. Anda akan mendapatkan keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmat.

3. Bekalilah diri dengan ilmu.

Kehidupan berumah tangga tidak mengenal laboratorium tempat untuk uji coba. Oleh karenya butuh bekal ilmu yang cukup.

Dalam kehidupan berumah tangga ibaratnya orang berlayar, ditengah samudra kehidupan Anda akan mendapati terpaan angin, hujan, ombak, gelombang besar, panasnya matahari, dan dinginnya malam. Kesemuanya itu jika tanpa ada bekal ilmu yang cukup maka perahu Anda akan kandas. Hanya orang-orang yang cukup perbekalan ilmulah yang mampu menghadapi semua rintangan dengan baik dan sampai tujuan.

Semoga muda dan mudi yang dalam pencarian jodohnya segera dipertemukan dengan pasangan yang diidam-idamkan (baca: muda dan mudi shalih shalihah).

🖌Sabar Ahmad Sholikin

•═════◎◎۩❁۩◎◎═════•
Broadcasted by belajar sabar
- Telegram channel: @belajarsabar
- Blogger:http://dakwahdanpendidikan.blogspot.com

Readmore...

"Sungguh Yang Haq Berbeda Dengan Yang Bathil"

0 komentar

Wahai saudaraku, ketahuilah bahwa kebenaran itu berbeda dengan kebathilan. Sebagaimana perbedaan antara barat dengan timur, siang dengan malam.

Sudah barang tentu perbedaan antara keduanya tidak dapat disandingkan  sampai kapanpun. Diantara keduanya hanya bisa saling menggantikan. Kebenaran menutupi kebathilan, kebathilan menutupi kebenaran. Sebagaimana siang menerangi malam, malam menutupi siang.

Untuk itu bertaqwalah kalian kepada Allah, yakni dengan melaksanakan yang haq dan meninggalkan yang bathil.

Sungguh yang haq telah datang, dan yang bathil akan lenyap.

🖌Sabar Ahmad Sholikin

•═════◎◎۩❁۩◎◎═════•
Broadcasted by belajar sabar
- Telegram channel: @belajarsabar
-Blogger:http://dakwahdanpendidikan.blogspot.com

Readmore...

Merubah Dengan Lembut

0 komentar

Merubah suatu kemungkaran senantiasa dilakukan dengan cara - cara yang arif, bijaksana dan penuh kesabaran.

Cara - cara kasar dan arogan hanya akan menambah permasalahan baru dan rumit.

Tunjukkan bahwa Islam itu adalah agama pembawa kedamaian, kesejukan dan penuh kearifan.

Sabar Ahmad Sholikin

•═════◎◎۩❁۩◎◎═════•
Broadcasted by belajar sabar
- Telegram channel: @belajarsabar
- Blogger:http://dakwahdanpendidikan.blogspot.com

Readmore...

Belajar Sabar

0 komentar

Belajar sabar bisa kita lakukan setiap saat. Oleh siapapun dan dimanapun kita berada.

Belajar sabar tidak mengenal batasan usia dan status sosial. Usia muda maupun tua. Orang berpangkat maupun orang akar rumput.

Tetapkanlah diri untuk terus belajar sabar, karena orang sabar akan disayang Allah.

🖌Sabar Ahmad Sholikin

•═════◎◎۩❁۩◎◎═════•
Broadcasted by belajar sabar
- Telegram channel: @belajarsabar
- Blogger:http://dakwahdanpendidikan@blogspot.com

Readmore...

Sabtu, 19 Februari 2011

JANGAN KAU TUKAR KEHIDUPAN AKHIRAT DENGAN DUNIA

0 komentar


Kehidupan akhirat itu kekal, sedangkan kehidupan dunia itu hanya sekejap. Semua orang yang telah menyatakan beriman mesti sudah tahu akan hal ini. Tapi tidak sedikit orang, walaupun sudah tahu masih tetap saja berebut kehidupan dunia dibandingkan kehidupan akhirat.

Fenomena ini sering kita lihat disekitar kita. Gara-gara berebut harta warisan dengan saudaraanya saling membunuh, saling membenci, tidak tegur sapa….? Gara-gara pilkada tidak sedikit masyarakat saling berantem, bahkan terkadang saling adu fisik. Tidak selesai disini, terkadang biasnya hingga bertahun-tahun masih dapat dirasakan. Bahkan sampai menggalang orang-orang untuk memutus tali silaturrahmi. Sampai separah inikan dunia sekarang?

Mari kita perhatikan firman Allah dalam surat Muhammad ayat 22-23: "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan ? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan telinga mereka, dan dibutakan penglihatan mereka" .

Imam Ath-Thabari menjelaskan ayat ini sebagai berikut : "Apakah kamu akan kembali seperti pada masa jahiliyah dengan bermusuhan dan berpecah belah setelah Allah SWT mempersatukan kalian dengan Islam dan ia (Allah SWT) telah mempersatukan hati mereka dengannya (Islam)".

Imam Ibn Katsier menambahkan apakah kamu akan kembali seperti kebodohan pada masa jahiliyah dengan saling menumpahkan darah (karena hal yang sepele) dan saling memutus tali sitaturahim (diantara kalian). Merekalah yang diancam dengan ayat : ‘Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan telinga mereka, dan dibutakan penglihatan mereka’. Maka Allah melarang membuat kerusakan secara umum dan memutus tali silaturahmi secara khusus. Dan sebaliknya Allah memerintahkan untuk membuat kebaikan di muka bumi dan menyambung tali silaturahmi.

Bahkan ancaman bagi orang yang memutus tali silaturrahmi amatlah berat sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut ini:

1-Dari Nabi SAW : " Tidak akan masuk surga orang yang memutus (qathi’) !. Berkata Ibn Abi Umar , Sufyan telah berkata : ‘yakni orang yang memutuskan tali silaturahmi ‘ (HR. Imam Muslim).

2- Dari Nabi SAW, ia bersabda : "Tatkala Allah menciptakan makhluk-Nya, setelah Ia selesai menciptakan makluk-Nya, Ar-Rahim (yaitu Allah SWT) berfirman : ‘Ini adalah tempat kamu berlindung dari Al-Qathi’ah (orang yang memutus tali silaturrahim) !’. Berkata (para makhluk-Nya) : ‘Benar (na’am)’. Allah berfirman lagi : ‘Apa kamu ridha, jika Aku menyambung kepada orang yang menyambung (silaturahim) denganmu, dan Aku memutus kepada orang yang memutus (silaturahim) denganmu ?’. (Para Makhluk) menjawab : ‘Mau, Wahai Tuhan’ !’. Ia (Allah SWT) lalu berfirman : ‘Ini untukmu !’. Lalu Rasul SAW membaca ayat (Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan) (Surat Muhammad ayat 22)" (HR. Bukhari).

Tali silaturrahim harus kita sambung, harus kita rawat, bahkan perintah Allah dalam surat Al-Hujurat ayat 9, jika ada saudara kita yang bertikai maka kita diperintahkan untuk mendamaikannya bukan malah sebaliknya. “Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”

Jika ada permasalahan, Allah memerintahkan untuk mengembalikan kepada Allah dan Rasulnya, bukan malah di bawa ke hukum-hukum syaithan, yang memang menghendaki permusuhan diantara ummat ini.
Lantas sekarang bagaimana melihat semua itu ? Sebagai orang beriman jangan tinggal diam, tetap berbuat dan berbuat, perkara hasil serahkan sepenuhnya kepada Allah yang Maha Kuasa,………..Amin………Semoga.

Dari seorang hamba yang lemah: Sabar Ahmad Sholikin,………dari kota dingin Malang, Kupersembahkan untuk 1. Ibu dan Bapakku (almarhum) semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, 2. Istriku Lilis Yuliati, yang selalu tabah dan sabar mendampingiku, 3. Kedua anakku: Ibrahim Ahmad Ibadurrohman dan Naufal Fadhlurrahman, semoga jadi anak sholeh.


Readmore...

Jumat, 04 Februari 2011

Kesultanan Majapahit, Fakta Sejarah Tersembunyi

0 komentar



Islamedia:Seorang sejarawan pernah berujar bahwa sejarah itu adalah versi atau sudut pandang orang yang membuatnya. Versi ini sangat tergantung dengan niat atau motivasi si pembuatnya. Barangkali ini pula yang terjadi dengan Majapahit, sebuah kerajaan maha besar masa lampau yang pernah ada di negara yang kini disebut Indonesia. Kekuasaannya membentang luas hingga mencakup sebagian besar negara yang kini dikenal sebagai Asia Tenggara. Namun demikian, ada sesuatu yang ‘terasa aneh’ menyangkut kerajaan yang puing-puing peninggalan kebesaran masa lalunya masih dapat ditemukan di kawasan Trowulan Mojokerto ini. Sejak memasuki Sekolah Dasar, kita sudah disuguhi pemahaman bahwa Majapahit adalah sebuah kerajaan Hindu terbesar yang pernah ada dalam sejarah masa lalu kepulauan Nusantra yang kini dkenal Indonesia. Inilah sesuatu yang terasa aneh tersebut. Pemahaman sejarah tersebut seakan melupakan beragam bukti arkeologis, sosiologis dan antropologis yang berkaitan dengan Majapahit yang jika dicerna dan dipahami secara ‘jujur’ akan mengungkapkan fakta yang mengejutkan sekaligus juga mematahkan pemahaman yang sudah berkembang selama ini dalam khazanah sejarah masyarakat Nusantara.

‘Kegelisahan’ semacam inilah yang mungkin memotivasi Tim Kajian Kesultanan Majapahit dari Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta untuk melakukan kajian ulang terhadap sejarah Majapahit. Setelah sekian lama berkutat dengan beragam fakt-data arkeologis, sosiologis dan antropolis, maka Tim kemudian menerbitkannya dalam sebuah buku awal berjudul ‘Kesultanan Majapahit, Fakta Sejarah Yang Tersembunyi’. Buku ini hingga saat ini masih diterbitkan terbatas, terutama menyongsong Muktamar Satu Abad Muhammadiyah di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu. Sejarah Majapahit yang dikenal selama ini di kalangan masyarakat adalah sejarah yang disesuaikan untuk kepentingan penjajah (Belanda) yang ingin terus bercokol di kepulauan Nusantara. Akibatnya, sejarah masa lampau yang berkaitan dengan kawasan ini dibuat untuk kepentingan tersebut. Hal ini dapat pula dianalogikan dengan sejarah mengenai PKI. Sejarah yang berkaitan dengan partai komunis ini yang dibuat di masa Orde Baru tentu berbeda dengan sejarah PKI yang dibuat di era Orde Lama dan bahkan era reformasi saat ini. Hal ini karena berkaitan dengan kepentingan masing-masing dalam membuat sejarah tersebut. Dalam konteks Majapahit, Belanda berkepentingan untuk menguasai Nusantara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Untuk itu, diciptakanlah pemahaman bahwa Majapahit yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia adalah kerajaan Hindu dan Islam masuk ke Nusantara belakangan dengan mendobrak tatanan yang sudah berkembang dan ada dalam masyarakat.


Apa yang diungkapkan oleh buku ini tentu memiliki bukti berupa fakta dan data yang selama ini tersembunyi atau sengaja disembunyikan. Beberapa fakta dan data yang menguatkan keyakinan bahwa kerajaan Majpahit sesungguhnya adalah kerajaan Islam atau Kesultanan Majapahit adalah sebagai berikut:

Ditemukan atau adanya koin-koin emas Majapahit yang bertuliskan kata-kata ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’. Koin semacam ini dapat ditemukan dalam Museum Majapahit di kawasan Trowulan Mojokerto Jawa Timur. Koin adalah alat pembayaran resmi yang berlaku di sebuah wilayah kerajaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sangat tidak mungkin sebuah kerajaan Hindu memiliki alat pembayaran resmi berupa koin emas bertuliskan kata-kata Tauhid.
Pada batu nisan Syeikh Maulana Malik Ibrahim yang selama ini dikenal sebagai Wali pertama dalam sistem Wali Songo yang menyebarkan Islam di Tanah Jawa terdapat tulisan yang menyatakan bahwa beliau adalah Qadhi atau hakim agama Islam kerajaan Majapahit. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Agama Islam adalah agama resmi yang dianut oleh Majapahit karena memiliki Qadhi yang dalam sebuah kerajaan berperan sebagai hakim agama dan penasehat bidang agama bagi sebuah kesultanan atau kerajaan Islam.
Pada lambang Majapahit yang berupa delapan sinar matahari terdapat beberapa tulisan Arab, yaitu shifat, asma, ma’rifat, Adam, Muhammad, Allah, tauhid dan dzat. Kata-kata yang beraksara Arab ini terdapat di antara sinar-sinar matahari yang ada pada lambang Majapahit ini. Untuk lebih mendekatkan pemahaman mengenai lambang Majapahit ini, maka dapat dilihat pada logo Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, atau dapat pula dilihat pada logo yang digunakan Muhammadiyah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Majapahit sesungguhnya adalah Kerajaan Islam atau Kesultanan Islam karena menggunakan logo resmi yang memakai simbol-simbol Islam.
Pendiri Majapahit, Raden Wijaya, adalah seorang muslim. Hal ini karena Raden Wijaya merupakan cucu dari Raja Sunda, Prabu Guru Dharmasiksa yang sekaligus juga ulama Islam Pasundan yang mengajarkan hidup prihatin layaknya ajaran-ajaran suf, sedangkan neneknya adalah seorang muslimah, keturunan dari penguasa Sriwijaya. Meskipun bergelar Kertarajasa Jayawardhana yang sangat bernuasa Hindu karena menggunakan bahasa Sanskerta, tetapi bukan lantas menjadi justifikasi bahwa beliau adalah seorang penganut Hindu. Bahasa Sanskerta di masa lalu lazim digunakan untuk memberi penghormatan yang tinggi kepada seseorang, apalagi seorang raja. Gelar seperti inipun hingga saat ini masih digunakan oleh para raja muslim Jawa, seperti Hamengku Buwono dan Paku Alam Yogyakarta serta Paku Buwono di Solo. Di samping itu, Gajah Mada yang menjadi Patih Majapahit yang sangat terkenal terutama karena Sumpah Palapanya ternyata adalah seorang muslim. Hal ini karena nama aslinya adalah Gaj Ahmada, seorang ulama Islam yang mengabdikan kemampuannya dengan menjadi Patih di Kerajaan Majapahit. Hanya saja, untuk lebih memudahkan penyebutan yang biasanya berlaku dalam masyarakat Jawa, maka digunakan Gajahmada saja. Dengan demikian, penulisan Gajah Mada yang benar adalah Gajahmada dan bukan ‘Gajah Mada’. Pada nisan makam Gajahmada di Mojokerto pun terdapat tulisan ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’ yang menunjukkan bahwa Patih yang biasa dikenal masyarakat sebagai Syeikh Mada setelah pengunduran dirinya sebagai Patih Majapatih ini adalah seorang muslim.
Jika fakta-fakta di atas masih berkaitan dengan internal Majapahit, maka fakta-fakta berikut berhubungan dengan sejarah dunia secara global. Sebagaimana diketahui bahwa 1253 M, tentara Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan menyerbu Baghdad. Akibatnya, Timur Tengah berada dalam situasi yang berkecamuk dan terjebak dalam kondisi konflik yang tidak menentu. Dampak selanjutnya adalah terjadinya eksodus besar-besaran kaum muslim dari Timur Tengah, terutama para keturunan Nabi yang biasa dikenal dengan ‘Allawiyah. Kelompok ini sebagian besar menuju kawasan Nuswantara (Nusantara) yang memang dikenal memiliki tempat-tempat yang eksotis dan kaya dengan sumberdaya alam dan kemudian menetap dan beranakpinak di tempat ini. Dari keturunan pada pendatang inilah sebagian besar penguasa beragam kerajaan Nusantara berasal, tanpa terkecuali Majapahit.


Inilah beberapa bukti dari fakta dan data yang mengungkapkan bahwa sesungguhnya Majapahit adalah Kesultanan Islam yang berkuasa di sebagian besar kawasan yang kini dikenal sebagai Asia Tenggara ini. Sekali lagi terbukti bahwa sejarah itu adalah versi, tergantung untuk apa sejarah itu dibuat dan tentunya terkandung di dalamnya beragam kepentingan. Wallahu A’lam Bishshawab. [sejarah-kompasiana]

Readmore...

Sabtu, 01 Januari 2011

Hidup Tenang Dengan Ikhlas

0 komentar


Ikhlas berarti rela. Rela terhadap apa yang diterimanya. Rela terhadap apa yang telah ditentukannya. Rela terhadap apa yang telah dikeluarkannya. Rela tanpa pamrih bahkan tidak mengingat-ngingatnya lagi. Sebagaimana Imam Syafi’I r.a. pernah menuturkan “ikhlas itu ibaratnya seorang yang membuang air besar. Segera dikeluarkan dan tidak tengok-tengok lagi”.
Dengan ikhlas jiwa jadi bersih. Bersih dari kotoran, bersih dari penyakit hati. Tidak ikhlas menjadikan jiwa kotor dan berpenyakit. Jiwa yang kotor tidak bisa menerangi diri apalagi oarang lain. Jiwa yang berpenyakit akan membuat diri lemah dan tidak berdaya, walaupun secara fisik kelihatan kokoh dan tegar. Tetapi jiwanya keropos di hadapan Allah.
Pada jiwa yang bersih memancarkan energy yang luar biasa. Pada hakikatnya setiap zat memiliki energy. Energi yang dapat dipancarkan dari setiap zat beragam, ada yang sedikit, ada yang banyak. Semua ini sangat tergantung pada kwalitas zat Si pemilik energy.
Kekuatan yang besar dapat dihasilkan tatkala manusia memposisikan dirinya sebagai manusia yang sebenarnya sesuai awal penciptaaanya. Dalam hal ini saya teringat firman Allah, “Dan tidaklah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang dia tidak ada sama sekali?” ( Q.S. Maryam: 67 ).
Manusia awalnya tidak ada, kemudian menjadi ada karena diciptakan oleh yang ada yaitu yang Maha Ada, Allah Subhanahu Wata’ala. Kemudian Allah meniupkan ruh, sehingga manusia memiliki kekuatan hidup. Kekuatan yang “sebenarnya” pada diri manusia terdapat pada jiwanya ini (ruh). Jiwa yang bersih, yaitu jiwa yang terbebas dari noda kesyirikan, jiwa yang bertauhid, jiwa yang sujud hanya kepada Allah. Inilah sifat fitrah jiwa manusia yang hanya taat kepada Allah, sebagaimana firman-Nya, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Q.S.Arrum:30).

Dari jiwa yang bersih terpancar cahaya ilahi, jiwa yang ikhlas hanya terdapat pada jiwa yang bersih ini, bersih dari segala kesyirikan, bersih dari penyakit hati, bersih dari kotornya lisan, bersih dari kekakuan tangan.
Terbebas dari kesyirikan yang berarti tidak menduakan Allah, tidak men-syarikatkan Allah, tidak menyandingkan Allah dengan apapun selain Allah. Bersih dari penyakit hati berarti terbebasnya dari belenggu nafsu. Orang yang dikuasai nafsu dalam hatinya akan selalu muncul iri, jika iri sudah menguasai diri akan muncul kedengkian.Tidak hanya berhenti disini, karena akan muncul penyakit berikutnya yaitu hasut. Fitnah dimunculkan untuk menutupi kelemahan dan ketidakberdayaannya. Fitnah tersebar dari lisan yang kotor ini. Inilah lisan yang sangat berbahaya karena selalu mengeluarkan bisa, yang sewaktu-waktu siap meracuni siapapun yang menghalanginya. Tidak peduli saudara seiman, apalagi hanyalah teman. Semua dimangsanya. Inilah fitnah yang sangat berbahaya itu, fitnah yang lebih kejam daripada pembunuhan.
Keberhasilan membangun image dengan jalan fitnah, akan semakin menjadikan diri congkak, sombong, dan takabur. Padahal dengan kesombongan akan semakin menenggelamkan diri dihadapan Allah. Akan semakin menjauhkan diri dari Allah. Karena orang yang sombong adalah musuh Allah, sebab yang berhak sombong hanyalah Allah. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (Q.S. Luqman:18).
Pada jiwa yang ikhlas, bersih dari semua penyakit tersebut diatas. Yang ada dibenaknya hanyalah Allah. Semua aktifitasnya disandarkan kepada Allah. Allah ridha atau tidak, sehingga yang dicari hanyalah ridha Allah (mardhotillah). Jika diri kita sudah mampu seperti ini, “ikhlas”, maka hidup akan menjadi tenang/tentram. Karena yang diingat-ingat hanyalah Allah. “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra’d: 28)


Dari kota dingin Malang, 26 Muharram 1432 H ( 1 Januari 2011 M)
Dari seorang Hamba yang lemah : Sabar Ahmad Sholikin
Untuk :1. Ibu dan Bapakku (almarhum), yang telah mengorbankan semuanya untukku. Di bulan Desember 22 tahun silam, Bapak telah tinggalkan kami.Ya Allah ampunilah semua dosa kedua orang tua kami. 2.Isteriku, Lilis Yuliati; yang tidak bosan-bosanya memberikan dorongan kepada kami. Ya Allah berikanlah kesabaran kepada istri Hamba 3. Dua buah hatiku Ibrahim Ahmad Ibadurrohman dan Naufal Fadhlurrahman; yang selalu menjadi inspirasiku. Ya Allah jadikanlah mereka anak yang sholeh.
Readmore...

Minggu, 19 Desember 2010

Fitnah dan Khianat

0 komentar


Fitnah berarti menyebarluaskan berita/cerita yang tidak benar tentang suatu hal atau orang lain, baik secara diam-diam maupun secara terbuka. Fitnah sering terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Fitnah tidak hanya sekedar menyebarkan berita buruk, tetapi juga mengadu domba dan memutar balikkan fakta. Sehingga di dalam Al-Qur'an, Allah SWT menggambarkan bahwa fitnah itu lebih kejam (lebih besar dosanya) daripada pembunuhan.

Fitnah merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya. Karena dampak yang ditimbulkan selalu negatif, tidak akan pernah positif. Luka yang digoreskan/ditusukkan oleh fitnah lebih tajam daripada pedang. Kehancuran akibat fitnah lebih dahsyat daripada bombardir senjata rudal. Fitnah dapat merusak tali silaturahim, merusak persatuan dan kesatuan, merugikan/mencelakakan/menyengsarakan orang lain, bahkan dapat menghancurkan Islam, mengotori perjuangan.

Inilah gambaran orang yang suka memfitnah (mengadu domba) :

* Pengecut dan curang. Orang yang suka memfitnah tidak mampu bersaing secara sehat.
* Pendusta. Dusta/bohong menjadi menu utama dalam aksinya untuk memfitnah dan mengadu domba orang lain.
* Hidup dan kehidupannya dihantui oleh prasangka buruk
* Suka memata-matai dan mencari-cari kesalahan orang lain. Dia asyik sekali membongkar rahasia, keburukan dan kebusukan seseorang, ketika orang itu tidak ada. Dan ketika orang itu datang, maka pembicaraan pun berhenti dengan sendirinya, kemudian berganti dengan memuji dan menyanjung. Ini adalah perbuatan hina dan jijik.
* Iri, dengki dan sombong selalu menempel di hatinya, bahkan menjadi darah daging. Ketika dia merasa gagal, iri dan dengki yang muncul. Namun, ketika memperoleh kesuksesan, dia sombong dan hidup melampaui batas.
* Hubbuddunya (lebih cinta kepada gemerlap duniawi daripada cinta kepada Allah)
* Aqidahnya telah rusak, karena lebih takut kepada manusia daripada takut kepada Allah. Dia rela memfitnah dan mengadu domba orang lain agar posisi dan jabatannya aman. Yang terpenting baginya adalah uang dan jabatan. Dengan kata lain, orang yang suka mengadu domba adalah penjilat bermuka dua.
* Kufur ni'mat. Orang yang suka memfitnah adalah orang yang tidak bersyukur atas ni'mat Allah. Karena akal, hati dan raganya digunakan untuk merugikan orang lain.
* Menghalalkan segala cara untuk kepentingan pribadi. Hatinya terdorong untuk mengeruk keuntungan dengan jalan pintas. Bahkan tega mengorbankan sahabat dan kelompok seperjuangan.
* Orang yang suka memfitnah dan mengadu domba berpotensi menjadi pengkhianat.

Jadi, Fitnah dan adu domba merupakan bentuk kezholiman, yang ditegakkan atas tiga perkara yaitu berpondasi pada kedustaan, kedengkian sebagai alasnya dan kemunafikan sebagai atapnya. Orang yang suka memfitnah dan mengadu domba berjalan dengan baju kesombongan, mengikuti kehendak hawa nafsu dan bujukan syetan. Otaknya dikotori dengan prasangka buruk. Hatinya beku, sulit menerima kebenaran, merasa dirinya paling benar dan paling berjasa sehingga merasa tidak enak dan cemburu ketika orang lain mendapat kesuksesan. Kebahagiannya di atas penderitaan orang lain. Kehidupannya terlena dengan tipu daya syetan. Aqidah dan idealismenya dijual hanya untuk memperoleh kesenangan dunia. Ingatlah .... Rasulullah SAW bersabda, "Aku tidak khawatir kalian miskin, tetapi aku khawatir (kalian mendapatkan) dunia (lalu) kalian bersaing dalam urusan dunia itu." (HR. Ahmad)

Kita harus waspada dan hati-hati terhadap fitnah dan adu domba, juga terhadap orang yang suka memfitnah dan mengadu domba. Karena mereka tergolong orang yang munafik, kufur ni'mat dan berpotensi menjadi pengkhianat.

Rasulullah SAW bersabda :
“Tidak akan masuk Syurga orang yang suka adu domba (memfitnah).” (HR. Bukhari)

Apa yang dapat kita lakukan sebagai upaya membentengi hati dari fitnah (adu domba) dan memeranginya :

1. Mulailah segala aktivitas dengan niat yang benar, yang baik dan tulus hanya untuk mendapatkan ridho Allah.
2. Mintalah ridho dan restu orangtua, mintalah kepada orangtua untuk mendoakan agar kita selamat.
3. Berpikir positif (husnuzhon). Jangan memandang / menilai seseorang dari sisi negatifnya saja.
4. Perbanyaklah mengingat Allah (zikrullah), karena zikir kepada Allah dapat melembutkan hati dan menyehatkan akal.
5. Hati-hati dalam berbicara, bertindak dan dalam menerima informasi/berita. Gunakan akal sehat dan hati yang sholeh untuk menganalisa dan menemukan kebenaran dari setiap informasi/berita. Jangan lupa untuk memohon petunjuk dari Allah dengan sholat istikhoroh.
6. Hati-hati terhadap kesenangan dunia, jabatan dan kedudukan.
7. Hati-hati dalam mengemban amanah. Laksanakan amanah dengan mengedepankan kejujuran dan penuh tanggungjawab
8. Jika cinta di Islam, maka ikuti aturan Islam. Perdalamlah ilmu agama dengan rajin mengikuti majelis ilmu atau pengajian dan mengamalkan ajaran Islam dalam hidup dan kehidupan sehari-hari.
9. Amar Ma'ruf Nahi Mungkar. Jangan pernah membenci manusia, karena benci kepada ciptaan Allah berarti benci kepada Allah. Bencilah kepada perilakunya yang negatif. Selalu mengajak sahabat-sahabat kita untuk berbuat baik dan mengingatkannya jika berbuat kemunkaran dan maksiat.
10. Senantiasa bersyukur kepada Allah. Rajinlah bershodaqoh kepada fakir miskin dan anak yatim, sebagai perwujudan rasa syukur kita kepada Allah.

Yakinlah .... Harta, jabatan dan kedudukan tidak dapat menolong kita di hari akhir nanti. Yang akan menolong kita adalah amal baik kita sendiri.

Yakinlah.... Allah amat sangat menyayangi kita. Allah tidak akan menghukum kita. Yang akan menghukum kita adalah amal perbuatan kita sendiri.

Yakinlah.... Orang yang suka memfitnah dan mengadu domba akan mendapat siksa/azab yang amat sangat pedih, baik di dunia maupun di akhirat.

Na'udzubillah min dzaalik.
oleh : Ade Nurdiansyah, S.Pd.
Readmore...

Di Saat Fitnah Merajalela

0 komentar


Allah ta’ala berfirman,

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Berhati-hatilah kalian dari suatu ‘fitnah’ yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim di antara kalian saja. Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah maha keras hukuman-Nya.” (QS. al-Anfaal: 25)

Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata,

يقول تعالى ذكره للمؤمنين به وبرسوله: “اتقوا”، أيها المؤمنون “فتنة”، يقول: اختبارًا من الله يختبركم، وبلاء يبتليكم “لا تصيبن”، هذه الفتنة التي حذرتكموها “الذين ظلموا”، وهم الذين فعلوا ما ليس لهم فعله، إما إجْرام أصابوها، وذنوب بينهم وبين الله ركبوها. يحذرهم جل ثناؤه أن يركبوا له معصية، أو يأتوا مأثمًا يستحقون بذلك منه عقوبة

“Allah ta’ala dzikruhu menyatakan kepada orang-orang yang beriman kepada-Nya dan kepada rasul-Nya: Hati-hatilah kalian, wahai orang-orang yang beriman, akan suatu fitnah. Maksudnya adalah suatu cobaan dari Allah untuk menguji kalian dan datangnya musibah yang menjadi cobaan untuk kalian. Yang itu tidaklah menimpa –maksudnya adalah fitnah yang diperingatkan kepada kalian- khusus kepada orang-orang yang zalim. Yang dimaksud dengan orang zalim adalah orang-orang yang melakukan sesuatu yang tidak boleh mereka lakukan, baik dengan bentuk melakukan kejahatan, atau dengan berbuat kemaksiatan antara diri mereka dengan Allah. Allah jalla tsana’uhu memperingatkan mereka agar tidak tenggelam dalam kedurhakaan kepada-Nya atau melakukan dosa yang membuat mereka berhak untuk mendapatkan hukuman dari-Nya.” (Jami’ al-Bayan [13/473] asy-Syamilah)

al-Baghawi rahimahullah berkata,

وقال ابن زيد: أراد بالفتنة افتراق الكلمة ومخالفة بعضهم بعضا

“Ibnu Zaid berkata: Yang dimaksud dengan fitnah adalah perpecah-belahan dan perselisihan yang terjadi di antara mereka.” (Ma’alim at-Tanzil [3/346] asy-Syamilah)

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata,

قال ابن أبي طلحة عن ابن عباس : في هذه الآية ، أمر الله المؤمنين أن لا يُقِرُّوا المنكر بين أظهرهم ، فيعمهم الله بالعذاب . وقال مجاهد : هذه الآية لكم أيضاً

“Ibnu Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas mengenai makna ayat ini, beliau berkata: ‘Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman –semua- agar mereka tidak membiarkan kemungkaran merajalela di tengah-tengah mereka karena hal itu akan menyebabkan Allah meratakan azab kepada mereka’. Mujahid mengatakan: ‘Ayat ini juga berlaku bagi kalian.’.” (Zaad al-Masiir [3/98] asy-Syamilah)

Dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ

“Beribadah di saat harj -berkecamuknya fitnah- laksana berhijrah kepadaku.” (HR. Muslim)

an-Nawawi rahimahullah berkata,

الْمُرَاد بِالْهَرْجِ هُنَا الْفِتْنَة وَاخْتِلَاط أُمُور النَّاس . وَسَبَب كَثْرَة فَضْل الْعِبَادَة فِيهِ أَنَّ النَّاس يَغْفُلُونَ عَنْهَا ، وَيَشْتَغِلُونَ عَنْهَا ، وَلَا يَتَفَرَّغ لَهَا إِلَّا أَفْرَاد .

“Yang dimaksud dengan harj di sini adalah fitnah dan kesimpangsiuran urusan manusia. Sebab banyaknya keutamaan beribadah di saat itu adalah karena manusia lalai darinya dan disibukkan dengan perkara lain sehingga meninggalkannya serta tidak ada yang bersungguh-sungguh melakukannya kecuali beberapa gelintir orang saja.” (al-Minhaj [9/339] asy-Syamilah)

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata,

ووجه تمثيله بالهجرة أن الزمن الأول كان الناس يفرون فيه من دار الكفر وأهله إلى دار الإيمان وأهله فإذا وقعت الفتن تعين على المرء أن يفر بدينه من الفتنة إلى العبادة ويهجر أولئك القوم وتلك الحالة وهو أحد أقسام الهجرة

“Sisi kemiripan hal itu dengan hijrah adalah di masa yang pertama -masa Nabi- maka umat manusia dahulu meninggalkan negeri kufur dan penduduknya menuju negeri iman dan penduduknya. Maka apabila terjadi fitnah wajib di saat itu bagi setiap orang untuk pergi membawa agamanya dari gejolak fitnah menuju ketaatan beribadah serta menjauhi kelompok orang-orang yang larut dalam fitnah itu serta keadaan yang buruk itu. Sementara hal itu adalah termasuk salah satu kategori hijrah.” (al-Kaba’ir, hal 202. Lihat juga perkataan Ibnul Arabi yang dinukil dalam Faidh al-Qadir [4/490] asy-Syamilah)

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan bahwa hakekat ibadah itu adalah, “Menjalankan ketaatan kepada Allah dengan cara melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.” (lihat Syarh al-Jami’ li ‘Ibadatillahi Wahdah, hal. 16). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga telah menjelaskan dengan ungkapannya yang sangat populer bahwa ibadah itu adalah ‘segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah, berupa ucapan maupun perbuatan, yang lahir/tampak maupun yang batin/tersembunyi.’ (lihat kitab beliau al-‘Ubudiyah). Dari sini kita mengetahui bahwa standar ibadah adalah kecintaan Allah. Semakin dicintai suatu perkara/amalan di sisi Allah maka semakin tinggi kedudukan amalan tersebut di dalam agama yang mulia ini.

Dari sini kita bisa memetik pelajaran –wallahu a’lam- bahwa di tengah berkecamuknya fitnah di antara kaum muslimin -dalam bentuk apa saja- maka yang wajib bagi mereka lakukan pertama kali adalah kembali kepada Allah dan merenungkan -berdasarkan dalil-dalil syari’at- mengenai tindakan apakah yang paling Allah cintai bagi mereka ketika fitnah itu telah melanda. Bukan dengan kembali kepada hawa nafsu dan perasaan mereka. Ingatlah, bahwa segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itulah hawa nafsu, meskipun ia dibungkus dengan ayat-ayat dan hadits-hadits!

Di tengah tersebarnya berita-berita tidak jelas -apalagi terkait dengan pribadi para ulama ataupun pemerintah-, maka wajib bagi para pemuda untuk menahan lisan dan jari-jari mereka agar tidak berbicara ataupun menyebarkan tulisan mengatasnamakan agama yang mulia ini kecuali dengan dalil dan berlandaskan berita yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ta’ala. Ingatlah, nasehat Muhammad bin Sirin rahimahullah yang dinukil oleh Imam Muslim rahimahullah dalam mukadimah shahihnya, “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” Semoga Allah merahmati orang yang mengetahui kadar dirinya…

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Artikel www.muslim.or.id
Readmore...

Arsip Blog

Jam

Tugas Siswa

Universitas Brawijaya

SMP Muhammadiyah

 

Copyright 2008 All Rights Reserved | Revolution church Blogger Template by techknowl | Original Wordpress theme byBrian Gardner